Sepanyul Line

reduce – reuse – recycle – compost

Archive for the ‘Story’ Category

any story

Sampah untuk Pakan Ternak

Posted by sepanyul on August 3, 2008

Sampah organik biasanya hanya dimanfaatkan sebagai kompos untuk tanaman. Kini melalui cara yang  sederhana, sampah dapat pula diolah menjadi pakan ternak.

Membuat pakan dari sampah dimulai dengan pemisahan sampah organik dan anorganik, dilanjutkan dengan pencacahan, fermentasi, pengeringan, penepungan, pencampuran, dan pembuatan pelet.

Pemisahan sampah organik dari sampah anorganik dimaksudkan agar sampah yang diolah hanya yang dapat dicerna oleh ternak serta menghindarkan ternak dari mengonsumsi bahan-bahan beracun atau yang  mengandung logam berat.
Pemisahan sebaiknya dapat dilakukan di tingkat produsen sampah (pasar atau rumah tangga). Oleh karena itu, untuk program massal perlu disediakan tempat sampah organik dan anorganik di tingkat produsen sampah. Sampah dari rumah sakit dan pabrik yang banyak mengandung logam berat atau bahan beracun seyogianya dihindari.
Sampah organik yang telah terpisah dari bahan lain selanjutnya dicacah dengan alat atau mesin pencacah agar bentuknya lebih kecil dan untuk memudahkan fermentasi. Fermentasi dimaksudkan untuk meningkatkan kandungan gizi dan nilai cerna sampah karena kandungan gizi sampah umumnya rendah
tetapi serat kasarnya relatif tinggi. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan inokulan bakteri dan cara yang tepat agar diperoleh produk yang bermutu tinggi.
Setelah difermentasi, sampah dikeringkan dengan dijemur lalu digiling hingga menjadi tepung. Selanjutnya
tepung sampah ditambah bahan lain termasuk enzim dan diaduk dalam mesin pencampur, sehingga diperoleh pakan komplit yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Apabila diperlukan, semua bahan yang sudah tercampur dibentuk pelet. Pelet pakan ternak dapat disimpan hingga 6 bulan.
Idealnya ransum komplit diberikan sekitar 3% dari bobot hidup ternak per hari. Dengan jumlah pakan tersebut, sapi tidak lagi memerlukan hijauan makanan ternak (HMT) atau rumput.  Namun sebagian petani ternyata masih memberikan rumput. Sebagai contoh, jika ternak diberi pakan komplit 1,5% dari bobot hidup per hari, peternak tinggal memberi rumput 50% dari kebutuhan semestinya.

dikutip dari: Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 28, no 3 2006

Posted in Story | 2 Comments »

Suatu Waktu di Ujung Negeri

Posted by sepanyul on May 22, 2008

Suatu ketika ditempat yang (bisa dibilang) jauh dari informasi bebas. Berdiam aku disitu untuk beberapa waktu. Alat komunikasi yang paling dianggap mudah dan murah adalah telpon seluler. Kesenangan akan utak-atik sesuatu membuatku terasa tersiksa, sampai suatu ketika kubulatkan tekad untuk mengutik HP yang selalu setia temani aku hungan dengan semua relasi “macul”. Setiap langkah sudah aku perhitungkan karena resiko yang datang akan bisa diluar perkiraan. Singkat kata “utikan” demi “utikan” berhasil dengan mulus. E398 standar berhasil aku upgrade ke E1 ROKR. Bosan dengan saftware satu pindah ke yang lain, tambah fitur ini itu, setting ini itu. Sampai suatu ketika diluar perkiraan, waktu proses flashing berjalan, tiba-tiba aliran listrik padam, “PET”, bersama itu pula “pet” juga HP ku. Sejak hari itu, aku harus terima akibat, beberapa relasi kesulitan untuk kontak, rupiahpun enggan mampir. Beberapa konter HP jelas-jelas angkat tangan tidak bisa membantu.

Dalam pikiran, E398 tidak akan pernah mati selamanya, walau banyak yang mengatakan untuk kesalahan flashing dia akan menjadi tidak lebih dari weight papper. Mulailah aku Googling, selama 2 hari akhirnya mendapat jawaban, itupun harus aku lakukan dengan percobaan. Beberapa potongan informasi aku gabungkan, akhirnya hard re-flash berhasil menyelamatkan nyawa “kekasihku” ini. Sejak itu aku berteriak bahwa E398 tidak akan pernah mati karena kesalahan flashing. I’ll always love you, till your really dead do us part.

Seandainya, itu terjadi di Jawa, di Surabaya, mungkin aku sudah pindah ke lain hati, beli HP baru, masalah selesai. Akan tetapi, dengan segala keterbatasan yang ada akhirnya memacu diri tuk kerahkan segala potensi yang ada agar segalanya kembali berjalan normal, seperti yang sudah terlalui.

Semua yang kita anggap sudah tidak berguna, kurang manfaat, atau berkurang kemampuannya, pada dasarnya dengan sedikit usaha ekstra akan bisa membahagiakan, memberikan rasa puas, sebagaimana terlahir baru. Silahkan dicoba, hidupkan lagi barang-barang yang dianggap ketinggalan jaman, tidak mode. Selama esensi dan fungsi nya tidak berubah, kenapa harus memaksi diri menjadi korban KAPITALISME.

Reduce – Reuse – Recycle – Compost

Posted in Reuse, Story | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Diajari,Dibimbing,Dibiayai

Posted by sepanyul on May 20, 2008

Kota Kitakyushu adalah salah satu kota di Jepang yang terkenal dengan Kota ramah lingkungan, itu adalah kondisi saat ini. Predikat ini tidak dicapai hanya dalam hitungan hari. Kitakyusu ini membangun kotanya sejak tahun 1960-an, mereka berusaha berubah status dari kota yang pencemaran lingkungan paling tinggi di kota Jepang. Pemerintah Kota Kitakyusu mempunyai Divisi yang menangani langsung isu-isu tentang lingkungan, yakni KITA (Kitakyusu International Techno-cooperative Assistance), yang bertugas mengkaji segala isu lingkungan yang ada kemudian dikembangkan dalam tindakan-tindakan yang bisa diaplikasikan untuk situasi jangka panjang. Salah satunya adalah mengedukasi masyarakat akan kesadaran lingkungan, baik itu umum maupun industri.

Saat ini KITA datang ke Indonesia untuk membagi “sedikit” pengalaman tentang penanganan permasalahan lingkungan terutama didaerah perkotaan. Sebagai permulaan, dibuatlah proyek percontohan di beberapa kota besar di Indonesia, yakni Semarang dan Surabaya. Sebagai pelaksanaan dilapangan, KITA bekerjasama dengan NGO dari Indonesia, yakni NGO Pusdakota Surabaya (Pusat Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan) yang menangani isu tentang pengelolaan sampah padat, dan di Semarang dengan LSM Bintari yang menangani isu pendidikan lingkungan.

Titik berat dari semua kegiatan pendidikan itu adalah pada bidang pendidikan lingkungan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Sedangkan sejak bulan November 2005 – Maret 2007, di Bali, KITA bekerjasama langsung dengan Yayasan Bali Focus.Untuk membahas isu pengelolaan sampah atau limbah padat. Dimana kerjasama tersebut meliputi pelatihan teknis dan pemberian dana hibah untuk Equipment, (pembelian perlengkapan dan penelitian pengomposan, peralatan Eco-Center).

Sedangkan untuk pendampingan di teknisnya yakni perbaikan tehnik dan sistem komposting, dengan menggunakan metode TAKAKURA, yang merupakan hasil penelitian pak Takakura selama 10 tahun, yang meliputi:

  • Takakura Home Methode, pengomposan untuk skala Rumah Tangga.
  • Takakura Susun, pengomposan untuk skala kawasan.

Sudah banyak contoh dan himbauan yang serius dari berbagai pihak untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sudah ada ilmu yang diberikan secara cuma-cuma. Sudah ada bimbingan untuk hidup bersama lebih baik. Momen 100 tahun kebangkitan Nasional bukan hanya isapan jempol atau sekedar hingar-bingar panggung peringatan dan pidato yang panjang lebar. Kesadaran untuk memulai memberikan sesuatu, sekecil apapun, kepada lingkungan adalah penting. Mulai memilah sampah dirumah untuk dikomposkan, agar terkurangi kadar CO2 diudara akibat insenerasi sampah, agar terkurang pencemaran di tanah. Banyak PR yang sudah waktunya selesai. Jangan sampai kita terjebak pada satu masalah yang sama di 5 atau 10 tahun kedepan. Ayo mulai! Ayo Bangkit! Indonesia Jaya! Vivat!!!!!!

Posted in Story | Tagged: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.