Suatu Waktu di Ujung Negeri
Posted by sepanyul on May 22, 2008
Suatu ketika ditempat yang (bisa dibilang) jauh dari informasi bebas. Berdiam aku disitu untuk beberapa waktu. Alat komunikasi yang paling dianggap mudah dan murah adalah telpon seluler. Kesenangan akan utak-atik sesuatu membuatku terasa tersiksa, sampai suatu ketika kubulatkan tekad untuk mengutik HP yang selalu setia temani aku hungan dengan semua relasi “macul”. Setiap langkah sudah aku perhitungkan karena resiko yang datang akan bisa diluar perkiraan. Singkat kata “utikan” demi “utikan” berhasil dengan mulus. E398 standar berhasil aku upgrade ke E1 ROKR. Bosan dengan saftware satu pindah ke yang lain, tambah fitur ini itu, setting ini itu. Sampai suatu ketika diluar perkiraan, waktu proses flashing berjalan, tiba-tiba aliran listrik padam, “PET”, bersama itu pula “pet” juga HP ku. Sejak hari itu, aku harus terima akibat, beberapa relasi kesulitan untuk kontak, rupiahpun enggan mampir. Beberapa konter HP jelas-jelas angkat tangan tidak bisa membantu.
Dalam pikiran, E398 tidak akan pernah mati selamanya, walau banyak yang mengatakan untuk kesalahan flashing dia akan menjadi tidak lebih dari weight papper. Mulailah aku Googling, selama 2 hari akhirnya mendapat jawaban, itupun harus aku lakukan dengan percobaan. Beberapa potongan informasi aku gabungkan, akhirnya hard re-flash berhasil menyelamatkan nyawa “kekasihku” ini. Sejak itu aku berteriak bahwa E398 tidak akan pernah mati karena kesalahan flashing. I’ll always love you, till your really dead do us part.
Seandainya, itu terjadi di Jawa, di Surabaya, mungkin aku sudah pindah ke lain hati, beli HP baru, masalah selesai. Akan tetapi, dengan segala keterbatasan yang ada akhirnya memacu diri tuk kerahkan segala potensi yang ada agar segalanya kembali berjalan normal, seperti yang sudah terlalui.
Semua yang kita anggap sudah tidak berguna, kurang manfaat, atau berkurang kemampuannya, pada dasarnya dengan sedikit usaha ekstra akan bisa membahagiakan, memberikan rasa puas, sebagaimana terlahir baru. Silahkan dicoba, hidupkan lagi barang-barang yang dianggap ketinggalan jaman, tidak mode. Selama esensi dan fungsi nya tidak berubah, kenapa harus memaksi diri menjadi korban KAPITALISME.
Reduce – Reuse – Recycle – Compost